PONTIANAK — REPUBLIKA TIMES – Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Drs. Yakobus Kumis, MH, menyampaikan pesan Natal 25 Desember 2025 yang menekankan pentingnya hidup berdamai dalam keberagaman, memperkuat pendidikan keluarga, serta mempersiapkan ketahanan pangan dan lingkungan menghadapi krisis global.
Dalam keterangannya, Yakobus menjelaskan bahwa perayaan Natal bagi umat Kristiani merupakan momentum memperingati kelahiran Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia.
> “Kelahiran Kristus bermakna kelahiran Sang Juru Selamat yang datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari dosa dan memberikan kehidupan. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan memperoleh kehidupan kekal,” ujarnya.
Ajakan Menjadi Manusia Baru
Yakobus menegaskan bahwa makna Natal tidak berhenti pada perayaan seremonial, melainkan harus diwujudkan dalam perubahan sikap hidup sebagai manusia baru.
> “Lahir kembali artinya meninggalkan sifat-sifat lama seperti kesombongan, egoisme, dendam, kebencian, dan permusuhan. Kita harus belajar melihat sesama sebagai saudara,” katanya.
Ia menekankan bahwa perbedaan suku, agama, ras, dan adat istiadat merupakan kodrat dan kehendak Tuhan yang harus disyukuri, bukan dipertentangkan.
> “Kita tidak memilih dilahirkan sebagai Dayak, Melayu, Tionghoa, Bugis, atau suku lainnya. Semua itu adalah kehendak Tuhan yang bersifat hakiki dan harus diterima dengan rasa syukur,” ujarnya.
Meneguhkan Toleransi dan Persaudaraan
Melalui perayaan Natal, Yakobus mengajak seluruh masyarakat untuk mengamalkan nilai cinta kasih, toleransi, dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
> “Natal mengajak kita untuk hidup berdamai dengan semua orang, saling menyayangi, saling membantu dalam kesulitan, serta bersama-sama membangun dunia yang aman dan damai,” tegasnya.
Keluarga sebagai Fondasi Bangsa
Secara khusus, Yakobus menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
> “Sebuah bangsa akan menjadi maju dan hebat apabila pendidikan dalam keluarga berjalan dengan baik. Dari keluargalah lahir masyarakat, bangsa, dan negara yang berkualitas,” jelasnya.
Menurutnya, tanpa pembangunan dan pendidikan keluarga yang kuat, mustahil sebuah bangsa besar dapat dibangun secara kokoh.
Antisipasi Krisis Global dan Pangan
Menutup pesannya, Yakobus mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi krisis global, termasuk ancaman krisis pangan dan perubahan iklim ekstrem.
Ia secara khusus mengimbau masyarakat di wilayah pedalaman yang memiliki lahan kosong agar segera mengelola dan memanfaatkannya untuk pertanian pangan.
> “Mari kita tanam ubi jalar, ubi kayu, jagung, padi, dan berbagai tanaman pangan lainnya. Ke depan kita akan menghadapi krisis pangan akibat perubahan iklim ekstrem, banjir, kekeringan, serta kerusakan lingkungan,” ungkapnya.
Yakobus juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan hutan guna mengurangi dampak krisis iklim global.
“Tanpa menjaga lingkungan, bumi tidak akan lagi memberi rasa aman dan nyaman bagi manusia,” pungkasnya.(*)





















